Rabu, 18 Agustus 2010

MENANAM RINDU, MENUAI ILTIZAM (1)

Oleh : Akhmad Rouf
Pada : Rabu, 18 Agustus 2010


A. DEFINISI RINDU
Kerinduan itu adalah fitroh dalam setiap jiwa manusia.
Atas ijin-Mu, ijinkan kami merindu.
Rasulullah telah mengajarkan bagaimana kita merindu.
Kemaslah cinta dan rindumu, tuangkan dalam cita dan konsep dirimu.
Merindulah hingga lahir kekokohan dalam akidah & akhlakmu,
Merindulah hingga lahir SAMARA di keluargamu,
Merindulah hingga lahir kerukunan di masyarakatmu,
Merindulah hingga tegaknya syariat atas kepemimpinan di negaramu,
Dan merindulah hingga syurga layak diberikan oleh Allah kepadamu.


Kerinduan Umar Bin Abdul Aziz
Raja `ibn Hayyawah bercerita, “Aku pernah bersama Umar ibn al Aziz saat ia menjadi gubernur di sebuah propinsi. Ia mengutusku untuk membelikan baju untukknya. Maka aku membeli baju seharga 500 dirham. Ketika ia melihat baju itu ia berkata , ‘Baju ini sebenarnya bagus seandainya tidak murah harganya’”.
Setelah menjadi khalifah kaum muslimin, ia mengutusku untuk membelikan baju untuknya. Lalu aku membeli sebuah baju seharga 5 dirham. Ketika ia melihatnya ia berkata,”Baju ini sebenarnya bagus, andai tidak mahal harganya!”. Raja lanjut bercerita, “Saat aku mendengar ucapannya aku menangis". Maka Umar bertanya padaku, ``Apa yang menyebabkan kamu menangis wahai Raja?``Aku menjawab, ``Aku teringat bajumu yang dahulu aku belikan untukmu dan aku ingat apa komentarmu terhadapnya”. Maka Umar mengungkap rahasia sikap dia kepada Raja ibn Hayyawah. Ia berkata, “Wahai Raja, jiwaku ini adalah jiwa perindu. Tidak pernah aku merealisasikan sesuatu kecuali aku merindukan sesuatu yang lebih tinggi dari sebelumnya. Aku merindukan menikah dengan anak pamanku , Fathimah binti `Abd al-malik maka akupun berhasil menikahinya. Kemudian jiwaku merindukan menjadi amir maka aku pun juga mendapatkannya. Lalu jiwaku merindukan kekhalifahan maka akupun dapat meraihnya. Nah, sekarang wahai Raja, jiwaku merindukan syurga. Aku berharap aku bisa menjadi penghuninya”.
Umar mendengar berita bahwa salah seorang anaknya membeli sebuah cincin dan membelikan untuk cincin tersebut sebuah batu cincin seharga seribu dirham. Maka Umar menulis kepada anaknya, “Telah sampai kabar kepadaku bahwa kamu membeli batu cincin untuk cincin yang kamu pakai seharga seribu dirham. Juallah cincin itu dan kenyangkanlah dengan (uang) hargaya seribu orang yang lapar. Belilah cincin besi dan berilah ukiran padanya, ``semoga Allah memberi rahmat kepada orang yang menyadari kadar kemampuan dirinya.``
Subhanallah,,,itulah Umar bin Abdul Aziz. Kerinduannya pada kampung akhirat mengubah konsep dan gaya hidupnya.

Kerinduan Anas Bin Nadhor
Dan tanda kemenangan yang sejati lainnya adalah adanya jiwa yang mencintai kehidupan akhirat di atas segala-galanya. Dari Anas bin Malik ia berkata, “Pamanku, Anas bin Nadhor, tidak ikut dalam perang Badar. Ia berkata, “Wahai Rosulullah, aku tidak ikut dalam perang pertama kali engkau memerangi orang-orang musyrik, seandainya aku nanti mengikuti perang melawan orang-orang musyrik, tentu Allah akan melihat apa yang bakal kulakukan”. Maka tatkala pecah perang Uhud dan kaum muslimin kocar-kacir, ia berkata, “Ya Allah, aku memohonkan uzur kepada-Mu atas yang diperbuat shahabat-shahabatku, dan aku berlepas diri dari apa yang diperbuat orang-orang musyrik itu”. Setelah itu, ia maju ke depan dan sempat bertemu dengan Sa‘ad bin Mu‘adz, ia berkata, “Wahai Sa‘ad bin Mu‘adz, surga… demi Robb Nadhr, surga… demi Robb Nadhr, aku mencium baunya di bawah bukit Uhud”. Sa‘ad mengatakan, “Wahai Rosulullah, aku tidak mampu melakukan seperti yang ia lakukan”. Anas melanjutkan kisahnya, “Usai peperangan, kami temukan pada tubuhnya ada 80 luka lebih, mulai tebasan pedang, tikaman tombak, atau tusukan panah, kami menemukannya telah terbunuh dan dicincang-cincang tubuhnya oleh kaum musyrikin. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada seorangpun mampu mengenalinya lagi selain saudarinya, ia mengenali lewat jari telunjuknya”. Kemudian Anas mengatakan, “Kami mengira bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang seperti dia atau yang semisal: “Di antara orang-orang beriman ada para lelaki yang berlaku jujur terhadap janji mereka kepada Allah; maka di antara mereka ada yang terbunuh, dan ada yang menunggu-nunggu, dan mereka sama sekali tidak berubah.” (QS. Al-Ahzâb: 23)
Makna kemenangan yang hampir serupa dengan ini, dapat kita temukan dalam hadits Khobbab bin Al-Arts, ketika ia datang kepada Rosulullah dan mengatakan, “Tidakkah tuan memintakan pertolongan untuk kami? Tidakkah tuan memanjatkan doa untuk kami?”. Mendengar keluhan ini, Rosulullah SAW bersabda, “Ada seorang lelaki dari umat sebelum kalian yang ditanam di dalam bumi, setelah itu dibawakan gergaji, lalu ia digergaji sejak dari kepalanya sampai akhirnya terbelah dua, tetapi itu tidak memalingkan dirinya dari agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi, sampai terlihat tulang-tulang di balik kulitnya, tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya.”

Dua kisah di atas menggambarkan bagaimana besar pengaruh kerinduan pada konsep diri seorang muslim. Kerinduan yang terkelola dengan baik akan menjadi penyemangat dalam setiap langkahnya. Kerinduannya akan melahirkan sebuah komitmen dan kesungguhan untuk meraih apa yang ia rindukan.

<<<bersambung>>>

Read more...

Selasa, 17 November 2009

SANG BUNGA SYURGA YANG KURINDU

Oleh : I.Roselina Zakia Fuad
Pada : Ahad, 08 November 2009


” Ya Allah...masih 9 bulan kok mau sekolah, memang diajari apa nanti di sekolah?” satu dari sejumlah pertanyaan dari tetangga dan saudara menanggapi tentang Babyschool tempat putraku tersayang mengeksplorasi kemampuannya. Menempati sebuah lahan yang cukup strategis, tempat belajar yang nyaman untuk turut merangsang perkembangan kemampuan otak putraku tersayang. Alhamdulillah, berjalan 3 bulan sudah putraku bermain dan belajar di sana. Genap di usianya yang satu tahun ini, aku ingin sekedar menuliskan perkembangan dan kemampuan putraku setelah belajar dan bermain di sana.
--==oOo==--
Rambatan
Sekarang putraku sudah mau latihan rambatan. Padahal sebelumnya, ketika berusaha menuju ke suatu tempat beberapa centi tepat di samping tempat dia berdiri, dia lebih memilih menjangkau tempat tersebut dengan merangkak daripada rambatan. Kata orang dewasa, ”Cape dech...!!” atau bahasa gaul saat ini, "CPD...!!!". Aku hanya berdo’a, semoga rambatan demi rambatan putraku adalah pengingat bagiku bahwa ada banyak nikmat yang sedang Allah anugerahkan padaku. Bahwa putraku sehat tanpa cacat, bahwa putraku berkesempatan untuk dapat berjalan di atas kedua kakinya dimulai dengan rambatannya kali ini. Allaahummaj’al lanaa min ’ibaadikasy syaakiriin
--==oOo==--
Mencorat-coret
Bermula dari keinginanku untuk mengulang materi gleendowmen yang sudah diajarkan di sekolah, maka aku dan suamiku membeli satu papan tulis bermagnet untuk permainan corat-coret. Sesampai di rumah sekali waktu aku tuliskan satu kata di papan tersebut kemudian kubaca bersama putraku. Senyum, itulah yang senantiasa dihadiahkan putraku setelah acara membaca itu kulakukan dengannya. Kulanjutkan dengan menggambarkan sebentuk gambar di papan tersebut beserta keterangan nama gambar tersebut di bawahnya, lagi-lagi, sambil sedikit berjingkak, ia-pun menghadiahiku senyuman lagi. Rupanya, putraku menikmati aktivitas tulis menulis tersebut. Dan di usia satu tahunnya ini, putraku sudah mau mencorat-coret sendiri di papan bermagnet itu, walaupun tidak jelas bentuk coretannya. Tapi cukup menakjubkan bagiku, karena sekarang ia sudah cukup terampil dalam memegang alat tulis di tangannya. Subhanallah...semoga kemampuan putraku mencorat-coret adalah awal kemauannya untuk menjadi penulis atau orang yang senantiasa mengikat ilmu dengan sebuah tulisan. Yang dengan demikian berarti ia turut menjaga peradaban agar tak punah, bagai membenihkan gagasan untuk ditelurkan sebelum akhirnya berkecambah seperti pohon kacang polong yang tumbuh terus-menerus hingga tak terbatas.
--==oOo==--
Bergaya membaca buku
Ada satu foto menarik hasil jepretan suamiku ketika mengambil gambar putraku sedang membuka-buka Al Qur’an besar milik kami di rumah. Foto tersebut banyak menarik komentar dari facebooker ketika di-upload. Ada yang mengira itu rekayasa, tapi ada juga yang kemudian mengomentarinya dengan do’a. Aku tidak tahu, putraku bergaya seperti itu meniru siapa? Tapi memang seperti itulah putraku. Cukup antusias dengan buku. Dulu ketika masih awal ia bisa merangkak maju, aku membiasakan putraku dengan membukakan ia buku-buku kesenian SD kelas 1 dan 2 yang kumiliki. Karena banyak gambar di sana, maka itulah yang menarik putraku untuk membuka-bukanya bahkan kadang lebih sering menyobeknya. Dan sekarang, kami membelikan putraku buku bergambar yang tebal berbahan karton. Sekali lagi, sembari duduk dengan kaki kanannya menopang ke kaki kirinya, gaya khas yang selalu ia tunjukkan saat membaca buku kecilnya. Sambil mengeluarkan suara-suara dari mulutnya.
--==oOo==--
Bisa menyatakan kemauannya kalau ia lapar
”Mam...mam..mam...!” pinta putraku merengek minta disuapi. Begitulah kebiasaan putraku ketika perutnya yang ndut kelaparan. Permainan apapun yang ada di hadapannya, seketika itu juga dia lepaskan dari genggaman tangannya dan bergegas menuju tempat aku duduk menikmati makanan. Untuk satu hal ini aku cukup bersyukur. Karena ini satu kemudahan dari Allah selain kemudahan yang lain. Dimana ada beberapa anak yang lain yang sulit sekali untuk dibujuk makan, putraku malah berlaku sebaliknya. Ketika ia lapar ia nyatakan dengan kata mam...mam...mam kemudian dia mendekatiku meminta untuk disuapi. Setelah itu ia kembali bermain dengan mainannya. Ketika makanan yang dimulutnya habis iapun kembali mendekatiku meminta untuk disuapi. Itulah putraku, menyenangkan ketika sedang menikmati makanan. Dan hal ini, sangat menggembirakan kedua gurunya di tempatnya belajar dan bermain. Pernah suatu ketika, putraku sudah menghabiskan 2 piring nasi beserta sayur, kemudian datang gurunya membawa sepiring nasi, putraku mengejar beliau dan meminta untuk disuapi lagi. Geli plus malu juga sebenarnya. Tapi aku selalu mencoba untuk mengambil positifnya saja, betapa senangnya dikaruniai putra yang mudah diajak makan.
--==oOo==--
Berdoa
Sambil menengadahkan tangan ke atas, putrakupun bergumam. Yaap... putraku sedang berdoa. Meniru gerakan anggota jamaah sholat di mushola dekat rumahku. Memang, sejak Romadhon, hampir sering kuajak putraku turut tarawih di mushola dekat rumah. Dari hasil pengamatannya, akhirnya ia dapat meniru gerakan orang yang sedang melantunkan doa sehabis sholat dilaksanakan. Terharu aku melihatnya. Betapa cepatnya seorang bocah menyerap dan meniru gerakan orang dewasa. Ku kembalikan syukurku kepada Dzat yang Menyempurnakan segala Ciptaan-Nya. Semoga kami dikaruniai kemampuan untuk mampu memberi tauladan kebaikan kepada putra kami serta mampu menjaga kedekatan kami pada Robb kami melalui doa-doa kami. Amin.
--==oOo==--
Rosulullah tercinta pernah menyampekan sabdanya : “Warisan bagi Allah 'Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya” (HR. Ath-Thahawi).
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”.(QS.Al Baqoroh : 128).

Read more...

Minggu, 20 September 2009

RINDU DI HARI FITRI

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP